Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
oleh: Riri Satria
Tulisan ini lahir dari sebuah diskusi mengenai pendekatan penelitian dengan paradigma postmodernis, terutama dalam bidang Ilmu Komputer dan Transformasi Digital. Tulisan ini hanyalah tulisan singkat berupa refleksi dan sudut padang saya pribadi sebagai orang yang cukup lama mengajar topik Metodologi Penelitian di dunia teknologi dan transformasi digital.
Baiklah, selama ini riset sering dipahami sebagai upaya menemukan kebenaran objektif. Data dianggap berbicara sendiri, teknologi dilihat sebagai alat netral, dan peneliti diposisikan sebagai pengamat yang berdiri di luar realitas yang ditelitinya. Cara pandang ini sangat kuat, terutama dalam sains dan teknologi, termasuk Ilmu Komputer. Namun, seiring teknologi digital semakin masuk ke setiap sudut kehidupan, pandangan semacam itu mulai terasa kurang memadai.
Dalam tradisi penelitian klasik yang dikenal sebagai positivisme, dunia dianggap memiliki satu realitas yang bisa diukur secara objektif. Jika metodenya tepat dan datanya cukup, kebenaran diyakini akan muncul dengan sendirinya.
Pendekatan ini sangat berjasa dalam melahirkan berbagai inovasi teknis, mulai dari algoritma hingga sistem informasi berskala besar. Di sisi lain, paradigma interpretivis muncul untuk mengingatkan bahwa manusia bukan sekadar angka. Realitas sosial dibentuk oleh pengalaman dan makna, sehingga riset perlu memahami bagaimana orang memaknai teknologi, bukan hanya seberapa cepat atau akurat teknologi itu bekerja.
Paradigma postmodernis melangkah lebih jauh lagi. Ia tidak berhenti pada upaya memahami makna, tetapi mulai mempertanyakan siapa yang berhak mendefinisikan makna tersebut. Bagi postmodernisme, tidak ada satu kebenaran tunggal yang berlaku untuk semua. Realitas bersifat jamak, cair, dan dibentuk oleh bahasa, budaya, serta relasi kuasa. Pengetahuan bukan sesuatu yang netral, melainkan hasil konstruksi sosial yang selalu berpihak, sadar atau tidak.
Cara pandang ini menjadi sangat relevan ketika kita berbicara tentang teknologi digital. Algoritma, misalnya, sering dipromosikan sebagai sistem yang objektif dan bebas bias.
Namun, dari kacamata postmodernis, algoritma dipahami sebagai produk keputusan manusia, yaitu data apa yang dipilih, kategori apa yang dibuat, dan nilai apa yang dianggap penting. Ketika sebuah sistem kecerdasan buatan gagal mengenali kelompok tertentu atau mereproduksi ketimpangan sosial, persoalannya bukan semata kesalahan teknis, melainkan asumsi-asumsi sosial yang tertanam sejak awal.
Hal yang sama terjadi dalam wacana transformasi digital. Digitalisasi hampir selalu dibingkai sebagai kemajuan, efisiensi, dan modernisasi. Narasi ini terdengar meyakinkan, tetapi jarang dipertanyakan. Riset postmodernis justru tertarik membongkar cerita besar tersebut.
Ia menanyakan siapa yang diuntungkan oleh sistem digital baru dan siapa yang tertinggal. Layanan publik berbasis aplikasi, misalnya, bisa sangat efisien bagi sebagian orang, tetapi menyulitkan mereka yang tidak memiliki akses atau literasi digital yang memadai.
Dalam desain UI/UX, pendekatan postmodernis melihat teknologi sebagai bahasa visual dan simbolik. Pilihan ikon, warna, alur penggunaan, hingga istilah yang dipakai bukanlah hal sepele. Semua itu mencerminkan asumsi tentang siapa “pengguna ideal” dan bagaimana seharusnya seseorang berinteraksi dengan sistem. Ketika desain hanya cocok untuk kelompok tertentu, teknologi secara halus membangun batas antara yang dianggap mampu dan yang dianggap bermasalah.
Berbeda dengan riset Ilmu Komputer konvensional yang berfokus pada optimasi, kecepatan, dan akurasi, riset postmodernis tidak menawarkan solusi teknis siap pakai.
Kontribusinya justru terletak pada kritik dan refleksi. Ia mengingatkan bahwa di balik setiap baris kode dan setiap sistem digital, selalu ada pilihan nilai, kepentingan, dan kekuasaan.
Peneliti dalam paradigma ini tidak mengklaim netral, melainkan secara sadar merefleksikan posisinya sendiri dalam proses produksi pengetahuan.
Pendekatan ini memang tidak cocok untuk semua tujuan penelitian. Jika targetnya adalah membangun algoritma yang lebih efisien, paradigma positivis mungkin jauh lebih tepat.
Namun, ketika pertanyaannya bergeser ke arah dampak sosial, keadilan, etika, dan makna teknologi dalam kehidupan manusia, paradigma postmodernis menawarkan sudut pandang yang sulit diabaikan.
Pada akhirnya, riset postmodernis mengajak kita untuk berhenti sejenak dari keyakinan bahwa teknologi selalu membawa kemajuan secara otomatis. Ia mendorong kita untuk bertanya lebih dalam kemajuan versi siapa, untuk siapa, dan dengan konsekuensi apa.
Di era transformasi digital yang serba cepat, pertanyaan-pertanyaan semacam ini justru menjadi semakin penting, bukan untuk menghambat inovasi, tetapi untuk memastikan bahwa inovasi tidak berjalan tanpa refleksi.
Akhirnya transformasi digital tidak akan bermanfaat kalau tidak membuat kehidupan menjadi lebih baik serta lebih memanusiakan manusia. Ini penting supaya katanya tidak muncul robot seperti Terminator di masa depan.
(Riri Satria)
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta “Login Haramain” (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]
Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]