Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • KISAH 10 BUKU YANG BERAT DAN “MEMBERATKAN”

    04 Jan 2026 | Dilihat: 125 kali

    Saya menemukan kembali sepuluh buku pada foto ini bukan dalam suasana akademik yang khidmat, melainkan ketika sedang membereskan buku-buku di ruang kerja atau lebih tepatnya, perpustakaan pribadi saya di rumah. Rak demi rak saya rapikan, sebagian buku saya susun ulang, sebagian lain saya pindahkan. Di tengah proses itu, mata saya tiba-tiba tertumbuk pada sepuluh buku ini ddi sebuah rak. Sejenak saya berhenti.

    Saya tahu betul bahwa harusnya ada beberapa buku lain yang sejenis yaitu bacaan berat dan "memberatkan", serius, dan sama-sama membentuk fondasi intelektual saya. Tetapi buku-buku itu tidak saya temukan. Mungkin terselip di rak lain, mungkin berpindah rumah, atau mungkin seperti sering terjadi dalam hidup, dipinjam seseorang dan tak pernah kembali. Anehnya, kehilangan itu tidak sepenuhnya menghadirkan kesal, melainkan perasaan pasrah yang dewasa, ya buku-buku itu seperti gagasan, memang punya nasibnya sendiri.

    Sepuluh buku yang tersisa ini kemudian terasa semakin penting. Mereka bukan sekadar koleksi, melainkan saksi. Immanuel Kant dengan "The Critique of Pure Reason" mengajarkan saya tentang batas bahwa akal yang kuat justru harus tahu kapan berhenti. Dari Kant, saya belajar bahwa berpikir kritis bukan hanya tentang menjawab, tetapi juga tentang memahami keterbatasan. Sebuah pelajaran yang kelak sangat berguna ketika saya bergelut dengan dunia teknologi yang sering kali terobsesi pada solusi instan.

    Lalu Michel Foucault lewat "The Order of Things" dan "The Hermeneutics of the Subject" menemani saya memahami bahwa pengetahuan tidak pernah steril. Ia selalu berada dalam konteks kuasa, sejarah, dan praktik sosial. Foucault memperluas cakrawala saya bahwa di balik sistem, algoritma, dan struktur organisasi, selalu ada manusia dengan relasi kuasanya. Bacaan ini diam-diam melengkapi cara saya membaca transformasi digital, yang bukan hanya soal teknologi, tetapi juga perubahan cara berpikir dan cara mengelola manusia.

    Lalu ada buku Isaac Newton dengan "The Mathematical Principles of Natural Philosophy" yang juga dikenal dengan judul "Principia" berdiri sebagai simbol keyakinan pada keteraturan dan presisi. Buku ini menanamkan rasa hormat dan kagum saya pada matematika dan struktur formal, sebuah fondasi yang sejalan dengan dunia computer science.

    Bersanding dengannya, Adam Smith dengan "The Wealth of Nations" memperkenalkan keteraturan sosial dan ekonomi bahwa sistem bisa bekerja bukan semata karena niat baik, tetapi karena desain dan insentif yang tepat. Dari sini minat saya pada manajemen strategis menemukan pijakan filosofisnya.

    Kritik datang dari Ernest Gellner lewat "Words and Things" sebagai pengingat keras bahwa intelektualitas tidak boleh terperangkap dalam permainan bahasa atau abstraksi kosong. Dunia nyata, dengan problem konkret dan konsekuensi riil, selalu menuntut kehadiran pikiran yang bertanggung jawab.

    Sementara itu, Midgley dalam "Science and Poetry" memberi ruang konteplasi bahwa sains, teknologi, dan rasionalitas tidak harus kehilangan imajinasi dan kepekaan rasa. Di sinilah minat saya terhadap puisi dan sastra pada umumnya menemukan pijakan dan berelasi dengan dunia ilmu pengetahuan atau sains.

    Nama Bertrand Russell muncul berulang dan memang ada beberapa buku. Dalam "Fact and Fiction", lalu "Introduction to Mathematical Philosophy", hingga "Principia Mathematica". Russell bagi saya adalah jembatan antara ketelitian logika dan keberanian moral untuk bersikap kritis. Ia mengajarkan bahwa berpikir jernih adalah bentuk etika, dan bahwa kerumitan intelektual tidak harus menjauhkan kita dari kemanusiaan.

    Semua buku ini dengan caranya masing-masing, ikut menemani perjalanan intelektualitas saya. Mereka hadir dalam proses belajar yang panjang, membentuk cara berpikir, membangun paradigma, dan melengkapi bacaan-bacaan saya tentang computer science, teknologi digital, transformasi digital, hingga manajemen strategis. Mereka tidak selalu saya baca dari awal hingga akhir, tetapi sering saya rujuk sebagai jangkar, sebagai pengimbang, sebagai pengingat.

    Karena itulah, meskipun ada buku-buku lain yang kini entah ke mana, sepuluh buku ini tetap saya simpan. Tidak saya berikan kepada pihak lain. Mereka bukan sekadar milik intelektual, melainkan bagian dari sejarah pribadi. Rak buku ini, pada akhirnya, adalah arsip sunyi tentang bagaimana saya belajar menjadi manusia yang berpikir dan terus belajar, dengan rendah hati, bahwa berpikir pun adalah sebuah perjalanan yang tak pernah selesai.

    Satu buku yang sangat menarik namun tidak ketemu adalah "The Relativity: The Special and the General Theory" karya Albert Einstein. Buku ini tidak sekadar  buku fisika melainkan mengajak kita merombak cara memandang kenyataan. Ruang dan waktu adalah dua konsep yang selama berabad-abad dianggap kokoh dan mutlak. Lalu keduanya dikatakan oleh Einstein sebagai sesuatu yang lentur, bergantung pada posisi, gerak, dan relasi. Di titik ini relativitas bukan hanya teori ilmiah, melainkan juga sikap epistemologis di mana kebenaran tidak hadir dari satu sudut pandang tunggal.

    Dalam filsafat ilmu pengetahuan, gagasan ini sejalan dengan pergeseran besar abad ke-20 yaitu runtuhnya positivisme naïf dan lahirnya kesadaran bahwa pengamat tidak pernah sepenuhnya netral. Pengetahuan selalu terikat pada kerangka acuan, bahasa, dan metode. Einstein dengan eksperimen-eksperimen pikirannya, mengingatkan kita bahwa ilmu pengetahuan bukan kumpulan fakta beku, melainkan proses penafsiran yang terus diuji oleh realitas, dan proses itu berlangsung terus-menerus.

    Akhirnya, semakin banyak yang dibaca, semakin banyak yang  dipelajari, saya semakin sadar bahwa ilmu pengetahuan yang dimiliki ini masih belum apa-apa. Semesta yang diciptakan Tuhan ini sangat luas kompleks, masih banyak yang belum diketahui atau belum dapat dijelaskan.

    (Riri Satria - Januari 2026)

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    F R I E N D S


    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture