Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
Dua mandau itu selama bertahun-tahun setia menghuni ruang kerja dan perpustakaan pribadi saya. Diam, tergantung atau tersandar rapi, seolah hanya menjadi artefak estetika, sekadar penanda eksotisme atau cendera mata perjalanan. Namun ketika ruang-ruang di rumah ditata ulang, saya menyadari sesuatu bahwa mandau-mandau itu tidak sekadar benda. Mereka adalah simpul ingatan. Mereka bernapas.
Mandau itu saya bawa dari Bumi Etam, Kalimantan Timur, pada masa ketika hidup saya lebih banyak diisi oleh laptop, jadwal rapat, survei lapangan, angka-angka statistik, dan laporan proyek. Ada satu fase dalam perjalanan karier saya sebagai konsultan manajemen dan teknologi sekitar pertengahan hingga akhir 1990-an, ketika itu Kalimantan Timur menjadi rumah kedua. Salah satu penugasan besar saya kala itu adalah di PT Pupuk Kalimantan Timur, Bontang. Dari sanalah ritme hidup saya ditentukan oleh jalur Balikpapan–Samarinda–Bontang–Tenggarong.
Dalam teori place attachment, ruang tidak pernah netral. Ia menyerap pengalaman, emosi, dan relasi manusia yang melaluinya. Maka tak heran, setiap kali mata saya jatuh pada mandau itu, yang muncul bukan hanya citra senjata tradisional Dayak, melainkan lanskap batin yang luas, bandara Sepinggan yang panas, perjalanan darat yang panjang, suara ombak, dan percakapan-percakapan lelah di ujung hari.
Saya ingat masa-masa menonton sepak bola Persiba Balikpapan atau PKT Bontang sebagai bentuk pelarian sederhana dari tekanan kerja. Sepak bola menjadi bahasa universal, tempat identitas profesional ditanggalkan sejenak. Di tribun, saya bukan konsultan, melainkan penonton biasa yang berteriak dan berharap.
Bontang Kuala masih melekat kuat dalam ingatan saya, perkampungan di atas laut, rumah-rumah kayu yang berdiri di atas tiang, kehidupan yang bergoyang pelan mengikuti arus. Di sana saya belajar, tanpa sadar, tentang resilience, konsep yang kelak sering saya jumpai dalam literatur manajemen. Masyarakat Bontang Kuala hidup di ruang yang rapuh secara fisik, namun kuat secara sosial. Mereka mengajarkan bahwa keberlanjutan tidak selalu lahir dari beton dan baja, tetapi dari kemampuan beradaptasi dan menjaga keseimbangan dengan alam.
Balikpapan punya kenangannya sendiri. Bukit Minyak yang berada dekat pelabuhan dan Pertamina, menjadi tempat nongkrong favorit atau ruang transisi antara kerja dan jeda. Dari sana, saya kerap memandang laut, menyadari betapa kecilnya diri di hadapan bentang alam dan sistem industri yang masif. Di Samarinda, ada sate rusa di tepi Sungai Mahakam. Makanan seperti kata Claude Lévi-Strauss, adalah bahasa budaya. Setiap gigitan adalah dialog antara manusia, alam, dan sejarah.
Tenggarong pun menyimpan fragmen tersendiri. Jembatan panjang itu belum lama rubuh saat saya ke sana. Reruntuhannya menjadi metafora yang kini terasa personal tentang rapuhnya infrastruktur, tetapi juga rapuhnya fase hidup. Ada hal-hal yang kita kira akan selalu ada, ternyata bisa runtuh sewaktu-waktu, dan kita dipaksa untuk menata ulang jalur.
Namun Bontang bagi saya bukan hanya ruang kerja dan lanskap sosial. Di sanalah saya menjadi saksi dua peristiwa politik besar bangsa ini, bukan dari jalanan, bukan dari pusat kekuasaan, melainkan dari sebuah televisi di kota kecil yang jauh dari Jakarta. Saya menyaksikan pengumuman mundurnya Presiden Soeharto pada 1998, dan beberapa tahun kemudian, mundurnya Presiden Abdurrahman Wahid. Keduanya saya tonton dari Bontang.
Pengalaman itu terasa ganjil sekaligus menggetarkan. Saya berada ribuan kilometer dari Istana, namun menyaksikan sejarah berbelok arah secara langsung. Televisi menjadi jendela kecil tempat kekuasaan runtuh dan harapan lahir kembali. Dalam keheningan ruang tamu, saya merasakan apa yang oleh sosiolog disebut sebagai collective memory atau ingatan bersama yang dibentuk melalui media, tetapi dirasakan secara personal. Reformasi tidak hanya terjadi di Jakarta; ia bergema hingga ke kota-kota lainnya, hingga ke kamar-kamar tempat masyarakat Indonesia duduk terpaku menatap layar.
Semua itu terjadi dalam kurun 1995 hingga 2001, seuah masa transisi besar, baik bagi bangsa ini maupun bagi saya secara pribadi. Indonesia sedang belajar bernapas ulang, teknologi mulai bergerak cepat, dan saya sendiri berada di persimpangan antara idealisme dan realitas profesional. Mandau-mandau itu menjadi saksi bisu dari masa ketika saya sedang membentuk diri, belajar membaca sistem, memahami manusia, dan berdamai dengan ketidakpastian.
Kini saat ruang kerja saya ditata ulang, mandau itu tidak saya pindahkan sembarangan. Saya memperlakukannya seperti memperlakukan ingatan, dengan hormat dan kesadaran. Dalam psikologi, ada konsep extended self di mana benda-benda tertentu menjadi perpanjangan dari identitas kita. Mandau itu adalah bagian dari diri saya yang pernah berjalan jauh, menyaksikan perubahan zaman, dan pulang dengan bekal pengalaman.
Ruang boleh berubah. Rak bisa dipindah. Tata letak bisa diperbarui. Namun ada benda-benda yang menolak untuk menjadi sekadar dekorasi. Mereka adalah arsip hidup. Dan dua mandau dari Bumi Etam itu, bagi saya, adalah pengingat bahwa perjalanan karier dan kehidupan bukan hanya tentang capaian, tetapi tentang menjadi saksi atas dunia, atas sejarah, dan atas diri sendiri.
(Riri Satria - Januari 2026)
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta “Login Haramain” (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]
Riri Satria tentang Bencana Alam Sumatera