Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
oleh: Riri Satria
Ketika saya duduk menatap layar laptop di awal tahun 2026, rasanya seperti berada di persimpangan antara antusiasme dan kegelisahan. Angka-angka ekonomi digital terus bermunculan, memukau sekaligus menuntut kita untuk merenung, apa makna semua pertumbuhan itu bagi kehidupan kita? Bukan hanya secara statistik, tetapi secara manusiawi.
Indonesia telah memasuki tahun 2026 sebagai mesin ekonomi digital terbesar di ASEAN. Kontribusi ekonomi digital nasional diproyeksikan mencapai sekitar USD 130–150 miliar pada akhir 2026, meningkat signifikan dari tahun-tahun sebelumnya berkat ledakan e-commerce, fintech, dan layanan digital lainnya. Nilai itu menegaskan Indonesia sebagai pasar digital paling besar di kawasan ASEAN, di atas negara seperti Thailand dan Malaysia.
Kalau dirunut dalam angka sederhana maka kita membahas tentang ratusan miliar dolar transaksi digital yang berjalan melalui platform, aplikasi, dan sistem pembayaran tiap hari. Transaksi pembayaran digital saja menunjukkan volume yang terus melesat, dengan miliaran transaksi sepanjang 2025 tercatat tumbuh lebih dari 30 % dibanding periode sebelumnya, dan ini menandakan bahwa masyarakat semakin intens memanfaatkan kanal digital dalam kehidupan sehari-hari.
Namun apabila kita bandingkan lagi ke skala global, angka itu baru setitik dari lautan, di mana ekonomi digital dunia diperkirakan mencapai puluhan triliun dolar pada 2026, dengan proyeksi hampir USD 28 triliun nilai ekonomi digital global. Ini menunjukkan betapa masih besarnya peluang sekaligus ketatnya kompetisi global yang dihadapi Indonesia dan negara ASEAN lain di pentas teknologi.
Ketika membaca laporan ekonomi, saya biasanya tidak langsung terpukau oleh angka, melainkan justru terdiam. Angka-angka itu terlalu besar untuk sekadar dirayakan, dan terlalu manusiawi untuk diperlakukan sebagai statistik semata. Laporan tentang ekonomi digital Asia Tenggara yang melampaui 300 miliar dolar AS pada 2025 terasa seperti kabar kemenangan, namun di balik kemenangan itu, saya merasakan sebuah pertanyaan yang lebih kontemplaif, sebenarnya kita sedang menuju ke mana?
Selama satu dekade terakhir, ekonomi digital di Asia Tenggara tumbuh seperti remaja yang berlari tanpa menoleh ke belakang. Aplikasi lahir setiap hari, promosi membanjiri gawai, dan kata unicorn menjadi mantra optimisme. Kita menyebutnya hyper-growth, di mana fase ketika pertumbuhan dianggap tujuan itu sendiri. Tidak apa-apa rugi, asal cepat. Tidak apa-apa boros, asal besar. Kita percaya bahwa masa depan akan menyelesaikan segalanya. Agak mengerikan sebenarnya.
Kini, ekonomi digital kawasan Asia Tenggara tidak lagi terhuyung oleh euforia. Ia telah belajar berjalan dengan stabil, menimbang untung dan rugi, dan untuk pertama kalinya berani bicara soal keberlanjutan atau sustainability. Pendapatan tumbuh lebih cepat daripada transaksi. Artinya kita tidak lagi sekadar ramai, tetapi mulai cerdas.
Namun, justru di titik kedewasaan inilah kegelisahan personal muncul. Sebab setiap kedewasaan selalu menuntut pilihan. Ketika ekonomi digital berhenti membakar uang dan mulai menghitung laba, siapa yang akan diselamatkan dan siapa yang akan ditinggalkan? UMKM kecil yang dahulu hidup dari subsidi promosi, pekerja yang bergantung pada fleksibilitas platform, atau konsumen yang terbiasa dimanjakan harga murah, maka semuanya kini harus beradaptasi dengan dunia yang lebih dingin dan lebih rasional.
Indonesia sebagai jantung ekonomi digital Asia Tenggara, berada di tengah pusaran ini. Kita adalah penyumbang terbesar transaksi, pasar paling ramai, dan ladang data yang subur. Tetapi saya sering merasa kita lebih mirip rumah besar yang pintunya selalu terbuka, sementara nilai tambahnya sering keluar lewat jendela. Kita menghasilkan volume, tetapi belum sepenuhnya menguasai makna. Kita menciptakan trafik, tetapi belum tentu kepemilikan.
Kita juga juga berbicara tentang fase berikutnya yaitu realitas AI. Bukan lagi mimpi, bukan lagi demo teknologi, melainkan kenyataan sehari-hari. AI akan mengatur logistik, membaca perilaku konsumen, menentukan kredit, bahkan mnganalis perilaku. Saya menyambutnya dengan kagum, tetapi juga dengan rasa waspada. Karena AI, seperti cermin yang jujur, akan memperlihatkan siapa yang siap dan siapa yang hanya ikut-ikutan.
Ekonomi digital yang matang akan mampu memanfaatkan AI untuk memperluas kesejahteraan. Ekonomi digital yang rapuh akan menjadikannya alat eksklusi. Di titik ini, pertanyaan menjadi sangat personal, apakah kita sedang membangun sistem yang memberdayakan manusia, atau sekadar mesin yang memeras efisiensi?
Saya membayangkan jutaan orang di Asia Tenggara sseperti pengemudi, penjual daring, kreator konten, yang hidupnya kini terikat pada algoritma yang tak pernah mereka lihat. Pertumbuhan ekonomi digital bukan lagi soal grafik naik, melainkan tentang hubungan baru antara manusia dan teknologi. Hubungan yang rapuh, asimetris, dan sering kali kabur.
Di tengah semua optimisme, saya ingin percaya bahwa ekonomi digital tidak harus menjadi cerita tentang angka semata. Ia bisa menjadi kisah tentang manusia yang belajar menata ulang hidupnya di dunia yang serba terhubung. Tentang kawasan yang tidak hanya mengejar masa depan, tetapi juga berani bertanya, ini masa depan untuk siapa?
Saya sering membayangkan sahabat saya yang membuka toko kecil di pinggiran kota—mereka bergairah ketika menerima pesan penjualan lewat aplikasi di saat yang sama mengeluh karena biaya logistik dan persaingan harga yang semakin ketat. Di satu sisi, pertumbuhan digital menciptakan jutaan peluang, namun di sisi lain, otomatisasi dan dominasi platform besar membuat segelintir usaha kecil seperti tergerus dalam arus besar itu.
Begitu juga dengan talenta digital muda, data menunjukkan bahwa pengguna internet Indonesia telah melonjak dengan lebih dari 229 juta pengguna atau sekitar 80 % dari total populasi. Ini adalah kekuatan demografis yang luar biasa, tetapi juga tantangan besar bagi pendidikan, pelatihan, dan pengembangan kapasitas sumber daya manusia agar tidak sekadar menjadi konsumen teknologi, tetapi juga pencipta nilai tambah.
Perbandingan dengan negara ASEAN lain juga mengajarkan kita sesuatu yang mendalam. Singapura, dengan PDB per kapita jauh di atas kita, sudah memasuki fase pematangan industri teknologi dengan kualitas regulasi, infrastruktur, dan penetrasi layanan premium yang lebih matang. Vietnam dan Malaysia giat mengikat investor global dan memperkuat ekosistem startup mereka. Indonesia mungkin lebih besar dari sisi nilai pasar digital, tetapi kita masih bergulat dengan ketidakmerataan akses dan kesenjangan keterampilan. Realitas ini menimbulkan pertanyaan, apa arti sebenarnya “kebesaran” bila yang menikmati kemajuan hanya segelintir orang?
Saya percaya bahwa di tahun 2026, tantangan ekonomi digital Indonesia tidak hanya soal angka, melainkan berapa miliar dolar yang dihasilkan atau berapa persen angka pertumbuhan yang dicapai, dan tidak kalah pentingnya soal bagaimana kita membumikan angka-angka itu untuk kehidupan nyata banyak orang. Apakah tumbuhnya ekonomi digital benar-benar menambah lapangan kerja yang layak? Apakah UMKM di pelosok negeri dapat masuk ke jaringan pasar global? Apakah generasi muda kita memegang kunci teknologi, bukan sekadar menjadi pengikut tren?
Dalam refleksi itu, angka-angka ekonomi digital bukan sekadar statistik, tetapi cermin perjalanan bangsa. Kkita punya potensi besar, tetapi juga tugas besar untuk memastikan bahwa pertumbuhan itu inklusif, berkeadilan, dan bermakna bagi setiap warga. Di panggung ASEAN dan global, Indonesia memang sedang berlari, tapi keputusan terbesar adalah ke arah mana kita berlari dan siapa yang kita bawa bersama dalam perjalanan itu.
(Riri Satria - 2 Januari 2026)
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta “Login Haramain” (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]
Riri Satria tentang Bencana Alam Sumatera