Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • GENERASI BARU: AI NATIVES

    20 Dec 2025 | Dilihat: 192 kali

    Generasi baru di dunia sedang tumbuh, namanya AI natives! Apakah itu?

    AI natives adalah istilah untuk orang atau generasi yang sejak awal sudah terbiasa hidup berdampingan dengan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence / AI), sehingga menggunakan AI terasa alami, bukan hal baru.

    Sejak mereka bisa berpikir dan mengenal dunia, AI sudah ada dan bagian dari hidup mereka. Ini merujuk kepada generasi yang lahir setelah tahun 2005.

    Kalau generasi tua seperti saya, tidak tumbuh bersama AI. Ketika saya mulai belajar, berpikir, dan membentuk cara pandang terhadap dunia, jawaban masih harus dicari lewat buku, diskusi panjang, atau kebingungan yang dibiarkan berhari-hari.

    Teknologi hadir, tentu saja, tetapi ia datang belakangan sebagai alat bantu, bukan sebagai teman seperjalanan sejak awal. Malahan belakangan saya membangun karir di bidang ini. Oleh karena itu, ketika saya melihat generasi AI natives, perasaan saya bercampur antara kagum, heran, dan diam-diam gelisah.

    Bagi saya, AI adalah sesuatu yang perlu dipelajari. Bagi mereka, AI adalah sesuatu yang sudah ada. Di titik inilah jarak itu terasa. AI natives tidak bertanya apakah AI boleh digunakan atau tidak, melainkan mereka bertanya bagaimana menggunakannya dengan paling efektif.

    Sementara saya, dan banyak orang di generasi saya, masih sering berhenti di pertanyaan moral paling awal apakah ini “curang”, apakah ini “terlalu bergantung”, apakah ini “menghilangkan manusia”. Pro dan kontra masih berlanjut sementara itu generasi AI natives sudah tidak peduli dengan debat tersebut.

    Pertanyaan-pertanyaan itu penting, tetapi saya mulai sadar bahwa pertanyaan itu sering lahir dari keterkejutan, bukan dari kedekatan.

    Saya melihat AI natives berpikir dengan cara yang berbeda. Mereka lebih cepat berpindah antara ide, lebih berani bereksperimen, dan tidak terlalu takut salah. Bukan karena mereka lebih pintar, tetapi karena mereka terbiasa memiliki “ruang aman” untuk mencoba. Ketika gagal, mereka bertanya lagi. Ketika bingung, mereka mengeksplorasi ulang.

    Di sisi lain, saya dibesarkan dalam budaya yang mengajarkan kehati-hatian pahami dulu, baru bertindak. Trial and error bukanlah sesuatu yang dianjurkan.

    Dua cara ini tidak saling meniadakan, tetapi sering kali saling salah paham.

    Ada kalanya saya merasa khawatir. Saya bertanya-tanya apakah AI natives akan kehilangan kesabaran untuk berpikir mendalam, untuk bergulat lama dengan ketidakpastian.

    Saya takut proses lambat yang dulu membentuk saya untuk membaca berulang, merenung, salah kaprah, lalu menemukan makna akan tergerus oleh jawaban instan.

    Tetapi semakin lama saya mengamati, semakin saya sadar bahwa kekhawatiran itu mungkin terlalu sederhana. Kecepatan tidak selalu berarti kedangkalan. Kadang, justru membuka ruang bagi eksplorasi yang lebih luas.

    Ada fakta menarik, ternyata para AI natives tidak selalu mengagungkan AI. Banyak dari mereka justru melihatnya dengan sikap pragmatis. AI bukan guru, bukan otoritas moral, apalagi kebenaran mutlak.

    Ia hanyalah alat yang sangat kuat, tetapi tetap alat. Dari mereka, saya belajar bahwa ketakutan berlebihan terhadap AI sering kali membuat kita kehilangan kesempatan untuk membentuknya secara bijak.

    Sebagai seseorang yang bukan AI native namun paham soal AI, posisi saya terasa unik. Saya berdiri di antara dua dunia yaitu dunia sebelum AI menjadi “biasa”, dan dunia baru tempat AI hadir di hampir setiap sudut kehidupan. Dari posisi ini, saya melihat potensi dialog yang penting.

    AI natives membutuhkan pengalaman, kebijaksanaan, dan konteks historis yang dibawa generasi saya. Sebaliknya, saya membutuhkan keberanian mereka untuk mencoba, serta keluwesan mereka dalam beradaptasi.

    Saya mulai memandang AI natives bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai cermin. Cermin yang memantulkan pertanyaan kritikal yaitu nilai apa yang benar-benar ingin saya pertahankan sebagai manusia?

    Jika berpikir kritis bukan lagi soal menghafal, lalu apa maknanya? Jika informasi melimpah, lalu apa peran kebijaksanaan? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak dijawab oleh AI, tetapi justru dipertegas oleh kehadirannya.

    Akhirnya, cara saya memandang AI natives berubah. Dari rasa curiga menjadi rasa ingin memahami. Dari kekhawatiran menjadi tanggung jawab bersama.

    Mereka tidak sedang menciptakan dunia yang asing bagi saya di mana mereka sedang hidup di dunia yang sedang berubah, sama seperti saya. Perbedaannya hanya soal titik awal.

    Mungkin tugas saya bukan menahan laju mereka, tetapi berjalan bersama mereka sambil membawa nilai-nilai yang tidak boleh hilang: empati, refleksi, dan kesadaran bahwa teknologi, secerdas apa pun, tetap membutuhkan manusia untuk memberi arah.

    (RS - Des 2025)

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    F R I E N D S


    RECENT EVENT

    Riri Satria tentang Bencana Alam Sumatera

    play-sharp-fill

    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture