Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • MEDIA SOSIAL DAN KONTROL SOSIAL: ANTARA HARAPAN DAN KEGAMANGAN

    18 Dec 2025 | Dilihat: 180 kali

    Pada awal kemunculannya, media sosial sering dipandang sebagai ruang bermain, yaitu tempat berbagi foto, cerita ringan, dan obrolan tanpa beban. Namun seiring dengan perjalanan waktu, kita menyadari bahwa media sosial tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih serius, bahkan jauh lebih berkuasa,  bukan sekadar medium komunikasi, melainkan telah menjelma menjadi alat kontrol sosial yang amat efektif, meski sering kali tak kita sadari sepenuhnya.

    Saya sering merenung, betapa sebuah video berdurasi beberapa detik yang direkam dengan ponsel sederhana bisa mengguncang institusi besar. Kita sudah berkali-kali menyaksikan aparat yang bertindak semena-mena di ruang publik, seperti di jalan, di kantor layanan, atau di tempat umum lainnya, lalu aksinya terekam dan tersebar luas di media sosial. Dalam hitungan jam, bahkan menit, publik bereaksi. Tekanan datang bertubi-tubi. Ujung-ujungnya sanksi dijatuhkan oleh institusi yang menaunginya. Sesuatu yang mungkin dulu akan tenggelam dalam laporan resmi yang tak pernah selesai, kini tak bisa lagi disembunyikan.

    Hal serupa juga terjadi pada masyarakat biasa. Ada orang yang merasa jagoan di jalanan, bertindak kasar, merasa kebal hukum. Namun kamera tak pernah tidur. Sekali viral, wajah yang semula garang berubah pucat. Aparat keamanan bergerak, proses hukum berjalan. Media sosial menjelma menjadi cermin besar yang memantulkan kembali perilaku kita ke hadapan publik.

    Dalam ilmu sosiologi konsep kontrol sosial merujuk pada cara masyarakat mengatur perilaku anggotanya agar tetap selaras dengan norma dan nilai yang berlaku. Pakar sosiologi Emile Durkheim menyebut bahwa keteraturan sosial tidak hanya dijaga oleh hukum tertulis, tetapi juga oleh tekanan moral kolektif. Media sosial adalah manifestasi baru dari “kesadaran kolektif” (collective conscience) itu, yang hadir dalam bentuk digital, masif, dan sering kali emosional.

    Satu hal yang lebih menarik adalah ketika media sosial menyorot gaya hidup aparat pemerintahan yang tampak tak wajar. Pamer kemewahan, flexing kekayaan, unggahan yang mungkin dimaksudkan sebagai kebanggaan pribadi, justru menjadi pintu masuk kecurigaan publik. Dari sana, tekanan mengalir, desakan muncul, dan aparat penegak hukum termasuk KPK mulai menelusuri. Lagi-lagi, media sosial menjadi pemantik awal dari mekanisme kontrol yang lebih formal.

    Di titik ini, kita melihat bagaimana masyarakat luas, yang sebelumnya pasif, berubah menjadi semacam pressure group. Mereka tidak memegang kewenangan hukum, tetapi suara kolektif mereka mampu memaksa pihak berwenang untuk bertindak. Inilah yang sering disebut sebagai trial by netizen. Sebuah pengadilan informal, yang kadang terasa kejam, kadang terasa adil, tetapi hampir selalu berisik.

    Nah, di sinilah kegamangan itu muncul. Kontrol sosial tidak selalu berarti keadilan. Media sosial  menjadi arena perdebatan wacana yang panas: tesis berhadapan dengan antitesis, kelompok menekan kelompok lain, dan masing-masing merasa paling benar. Jika tidak dikelola dengan kedewasaan dan kebijaksanaan, benturan ini dapat menjelma menjadi konflik horizontal. Polarisasi mengeras, empati menipis, dan kebenaran sering kali kalah cepat oleh emosi.

    Media sosial juga menjadi arena pertarungan wacana, gagasan, pemikiran, dan bahkan berdialektika. Jurgen Habermas pernah membayangkan ruang publik sebagai tempat dialog rasional demi kepentingan bersama. Ironisnya, ruang publik digital kita sering justru dipenuhi teriakan, bukan percakapan. Tesis berhadapan dengan antitesis, tetapi bukan untuk mencari sintesis, melainkan untuk saling menjatuhkan. Ketika pressure group bertemu pressure group tandingan tanpa etika diskursus, potensi konflik horizontal menjadi nyata, bahkan bisa mengerikan.

    Saya pribadi kerap merasa ambivalen. Di satu sisi, saya bersyukur media sosial memberi ruang bagi suara yang dulu tak terdengar. Ia memberi harapan bahwa kekuasaan tak lagi sepenuhnya satu arah. Tetapi di sisi lain, saya juga khawatir melihat betapa mudahnya opini berubah menjadi amukan, dan kritik berubah menjadi persekusi. Ini yang dimakssud dengan media sosial itu ibarat pisau bermata dua.

    Media sosial memang dahsyat. Ia bisa menjadi alat pembebasan, sekaligus alat penghancuran. Ia bisa menggerakkan people movement untuk melawan ketidakadilan, tetapi juga bisa menyalakan api kebencian yang sulit dipadamkan. Semua kembali pada cara kita menggunakannya.

    Barangkali harapan yang paling masuk akal adalah harapan yang sederhana agar  kita menggunakan media sosial dengan kesadaran moral. Menjadikannya sarana kontrol sosial untuk kebaikan bersama, bukan untuk kejahatan. Menggunakannya untuk mengawasi kekuasaan, bukan untuk menyebar hoaks. Memakainya untuk menyuarakan kritik, bukan ujaran kebencian.

    Karena pada akhirnya, media sosial hanyalah alat. Yang menentukan arah dan dampaknya adalah kita, yaitu manusia di balik layar, dengan segala niat baik dan sisi gelap yang kita miliki.

    (RS - Des 2025)

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    F R I E N D S


    RECENT EVENT

    Riri Satria tentang Bencana Alam Sumatera

    play-sharp-fill

    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture