Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
oleh Yon Bayu Wahyono | 31, Agu, 2025
PojokTIM —Puisi Shantined berhasil mentransformasi suara “aku” menjadi “kita”, sehingga puisinya bukan hanya ungkapan personal, tetapi juga dialektika kolektif yang merayakan cinta, luka, pengorbanan, dan harapan.
Demikian dikatakan Warih Wisatsana saat membahas buku kumpulan puisi “Kita yang Tersisa dari Luka Cuaca” dan kumpulan cerpen “Saga Serigala dan Sebilah Mandau” karya Shantined yang terbit tahun 2025. Diskusi yang berlangsung di pusat kegiatan Jatijagat Kehidupan Puisi (JKP) di kawasan Renon, Denpasar, Bali berlangsung hangat dan mendalam.
“Puisi Shantined tidak berhenti pada suara pribadi. Ia adalah perayaan kita bersama—bagaimana bahasa, pengalaman, dan kehidupan saling menjelma,” ungkap Warih seraya menambahkan, karya-karya Shantined merupakan hasil perjalanan panjang lebih dari dua dekade, sejak 2003 hingga 2024.
Acara dibuka meriah oleh duo pewara dari Teater Tahta Denpasar, Indah dan Franilia, yang menghadirkan suasana cair namun khidmat. Sambutan pertama disampaikan oleh Mas Ruscita Dewi atas nama JKP, dilanjutkan sambutan kedua oleh Riri Satria dari Jagat Sastra Milenia (JSM).
Dalam kesempatan itu Riri mengulas singkat perjalanan kreatif Shantined sekaligus menegaskan eratnya silaturahmi dan hubungan kekeluargaan yang telah lama terjalin antara JSM dan JKP.
Sementara Wayan Jengki Sunarta, yang juga menjadi pembicara dalam diskusi yang dipandu oleh pengelola JKP Ngurah Arya Dimas Hendratno, memberikan telaah kritis atas buku Saga Serigala dan Sebilah Mandau yang berisi 16 cerpen ditulis dalam kurun 2004–2024. Ia menyoroti tema besar buku ini, yaitu perempuan dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Tokoh-tokoh perempuan dalam cerpen Shantined bayak ditempatkan sebagai korban, namun tidak hanya berhenti di situ, melainkan banyak pula yang melawan bahkan dengan cara ekstrem.
“Shantined menghadirkan perempuan yang tidak pasif. Mereka berani melawan, bahkan dengan pilihan ekstrem. Itulah yang membuat cerpennya relevan sekaligus mengguncang,” ujar Jengki.
Tan Lioe Ie sebagai penanggap menyoroti dimensi kreatif dalam karya Shantined. Ia menekankan bahwa sastra tidak perlu takut pada kerasnya tema, sebab kekerasan sudah lama hidup dalam khazanah sastra klasik, seperti epos Mahabharata. Seni, menurutnya, justru memberi makna baru.
“Kalau memukul dengan kepala, itu namanya preman. Tapi kalau memukul dengan puisi, lahirlah aliran makna. Jangan takut menulis keras, selama ia sudah menjadi karya seni,” kata Tan.
Ruang Bersama
Diskusi ini memperlihatkan bagaimana karya Shantined—baik puisi maupun cerpen—membuka ruang refleksi tentang kehidupan perempuan, kekerasan, trauma, sekaligus keberanian untuk melawan. Sastra, menurut para narasumber, hadir bukan hanya sebagai cermin kenyataan, tetapi juga sebagai medan perlawanan, ruang tafsir, dan pengingat akan pentingnya kebersamaan.
Pada kesempatan itu Shantined juga menjelaskan proses kreatifnya ang selalu didahului ole riset sederhana. Biasanya dia mengunjungi Lembaga Perlindukan Perempuan dan Anak, Lembaga Permasyarakatan Perempuan, mewawancarai berbagai perempuan dengan pengalaman KDRT, bahkan ke area lokalisasi prostitusi. Semua itu menjadi bahan baku untuk Shantined yang dengan penulisan kreatif diolah menjadi cerpen atau puisi. Shantined juga mengaku sedang menyiapkan novel pertamanya.
Acara berlangsung hangat, penuh dialektika, dan dihadiri oleh pegiat sastra, mahasiswa, akademisi, serta komunitas literasi. Kehadiran JKP dan JSM dalam satu panggung memperlihatkan energi kolaborasi yang terus terjaga, menjadi bukti bahwa sastra tetap hidup karena dirawat bersama dalam kebersamaan. (Rissa Churria)
*) Rissa Churria, adalah pendidik, penyair, esais, pelukis, aktivis kemanusiaan, pemerhati masalah sosial budaya, pengurus Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), pengelola Rumah Baca Ceria (RBC) di Bekasi, anggota Penyair Perempuan Indonesia (PPI), saat ini tinggal di Bekasi, Jawa Barat, sudah menerbitkan 10 buku kumpulan puisi tunggal, 1 buku antologi kontempelasi, 1 buku Pedoman Bahasa Indonesia untuk Mahasiswa, 1 buku Esai, serta lebih dari 100 antologi bersama dengan para penyair lainnya, baik Indonesia maupun mancanegara. Rissa Churria adalah anggota tim digital dan siber di bawah pimpinan Riri Satria, di mana tugasnya menganalisis aspek kebudayaan dan kemanusiaan dari dunia digital dan siber.
Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan RI bidang Digital, Siber dan Ekonomi | Pakar Teknologi Digital | Pengamat Ekonomi Digital | Komisaris Utama Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS)/Pelindo Solusi Digital (PSD) | Founder dan CEO Value Alignment Advisory (VA2) | Dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia | Pendiri Jagat Sastra Milenia & SastraMedia.com | Penyair & Penulis | Pencinta Kopi
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]
Menarik memahami makna pendidikan dalam budaya Minangkabau. Orang Minang memiliki banyak tempat belajar untuk hidupnya. “Sejatinya kita belajar dari berbagai tempat, yaitu sakola (sekolah), surau (masjid), galanggang (gelanggang), dan pasa (pasar). Di atas semua itu, kita harus mampu belajar dari semua yang ada di dalam, karena pepatah Minang mengatakan bahwa alam takambang jadi guru,” kata Pakar Teknologi Digital, Riri Satria, saat dihubungi majalahelipsis.com terkait […]