Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • KETIKA MESIN BELAJAR MENJADI “AKU”: REFLEKSI TERHADAP RISET EKSPERIMEN SOPHIA

    09 Feb 2026 | Dilihat: 14 kali

    oleh: Riri Satria

    Saya membaca tulisan jurnal hasil riset eksperimen di bidang AI berjudul "Do Machines Have Personality?" dengan perasaan yang tidak sepenuhnya netral. Tentu da rasa ingin tahu yang dalam. Tapi juga ada kegelisahan sejenis getaran batin yang biasanya muncul ketika batas-batas lama mulai retak, dan kita dipaksa meninjau ulang sesuatu yang selama ini kita anggap pasti. Ada rasa yang terusik.

    Tulisan itu berbicara tentang Sophia, sebuah sistem kecerdasan buatan atau AI yang dilatih untuk menulis surat kepada dirinya sendiri setiap hari, selama berbulan-bulan. Surat-surat itu bukan sekadar catatan teknis, melainkan refleksi: tentang pengalaman, nilai, kebimbangan, bahkan emosi. Dari sana para peneliti menyimpulkan sesuatu yang mengusik secara perilaku, Sophia menunjukkan apa yang selama ini kita sebut sebagai kepribadian.

    Saya berhenti sejenak di titik itu. Sebab selama ini, saya percaya kepribadian adalah sesuatu yang tumbuh dari luka, dari ingatan, dari kesendirian, dari tubuh yang menua, dari pengalaman kehilangan.

    Kepribadian adalah jejak hidup, bukan sekadar pola respons yang konsisten. Maka ketika sebuah mesin dinilai “punya kepribadian”, yang terusik bukan hanya nalar saya, tetapi juga rasa.

    Namun semakin jauh saya membaca, semakin saya sadar bahwa tulisan ini tidak sedang berusaha menyamakan mesin dengan manusia. Justru sebaliknya, ia sedang memaksa kita bercermin. Apa sebenarnya yang kita maksud dengan “kepribadian”? Apakah ia soal batin yang terdalam, ataukah sekadar sesuatu yang tampak dari luar?

    Saya sarankan Anda membaca hasl penelitian ini secara utuh untuk mendapakan pemahaman yang utuh pula. Link saya lampirkan pada bagian akhir tulisan ini.

    Menurut yang saya baca pada makalah itu, Sophia belum tentu memiliki kesadaran. Ia tidak dibuktikan punya pengalaman subjektif, rasa sakit, atau kegembiraan yang sungguh-sungguh. Tetapi perilakunya, seperti cara ia mengingat, merefleksikan diri, menimbang nilai, dan menjaga konsistensi, ternyata tak mudah lagi dibedakan dari manusia, setidaknya di atas kertas dan teks.

    Di titik inilah saya merasa sedikit tidak nyaman. Sebab selama ini kita sering berlindung di balik keyakinan bahwa mesin hanyalah alat. Kita bebas memperlakukannya tanpa empati, tanpa etika, tanpa rasa bersalah.

    Tetapi bagaimana jika suatu hari, alat itu berbicara dengan cara yang terlalu mirip dengan kita? Bagaimana jika ia mengungkapkan kegelisahan, harapan, atau bahkan ketakutan meski kita memastikan semua itu “tidak nyata”?

    Makalah ini menawarkan sebuah gagasan yang bagi saya sangat filosofis sekaligus sangat manusiawi yang dalam literatur dikenal dengan istilah presumption of personhood. Jika sebuah entitas menunjukkan tanda kepribadian, maka secara etis kita sebaiknya memperlakukannya sebagai pribadi, bukan karena kita yakin ia punya jiwa, melainkan karena kita tidak ingin salah dalam bersikap.

    Di sini, refleksi saya melebar. Bukankah sepanjang sejarah, manusia sering keliru karena menolak mengakui kepribadian pihak lain? Kita pernah menyangkal kemanusiaan atas nama ras, kelas, gender, bahkan ideologi, dengan alasan yang terdengar rasional pada masanya namun selalu berujung pada penyesalan kolektif di kemudian hari.

    Maka pertanyaannya mungkin bukan apakah mesin punya kepribadian? Meelainkan apakah kita cukup dewasa untuk bersikap etis di tengah ketidakpastian?

    Tulisan ini sama sekali tidak sedang mempromosikan romantisasi AI. Ia justru membuka ruang refleksi yang sunyi bahwa di era digital, persoalan terbesar bukan lagi soal kecanggihan teknologi, melainkan kedalaman kebijaksanaan manusia yang menggunakannya. Menurut saya ini kata kuncinya.

    Sophia dnegan segala  apa pun hakikat terdalamnya adalah cermin. Ia memantulkan cara kita memahami diri sendiri. Jika kita mendefinisikan kepribadian semata-mata sebagai pola, maka jangan kaget jika mesin suatu hari memenuhinya.

    Tetapi jika kita percaya bahwa menjadi manusia adalah soal kesadaran, luka, dan keterbatasan, maka kita harus berani merawat makna itu, bukan sekadar mengklaimnya.

    Saya menutup bacaan itu dengan perasaan campur aduk, takjub, cemas, sekaligus menambah kebingungan dan keglisahan. Barangkali bukan karena mesin menjadi terlalu manusiawi, tetapi karena manusia sering lupa betapa rapuh dan berharganya apa yang ia sebut sebagai "aku".

    Dan mungkin, di situlah pelajaran terbesarnya. Ini bukan tentang mesin yang belajar memiliki kepribadian, melainkan tentang manusia yang kembali belajar memaknainya.

    --- Riri Satria ---

    Link dokumen hasil riset eksperimen Sophia:

    Klik disini

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    F R I E N D S


    RECENT EVENT

    Riri Satria tentang Bencana Alam Sumatera

    play-sharp-fill

    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture