Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • KETIKA HIDUP TERLALU RUMIT, “UDAH, GINI AJA!”

    21 Jun 2026 | Dilihat: 11 kali

    Oleh Riri Satria

    Kemarin saya menerima sebuah buku dari penulisnya. Buku itu berjudul "Udah, Gini Aja!", dan penulisnya adalah sahabat saya, Sunil R. Tolani. Saya mengucapkan terima kasih kepada Sunil atas buku tersebut.

    Di tengah banyaknya buku pengembangan diri yang menawarkan berbagai formula sukses yang rumit, buku ini justru hadir dengan sebuah judul yang sederhana, bahkan terdengar seperti ungkapan sehari-hari yang sering kita dengar dalam percakapan santai "Udah, gini aja!" Namun, justru di balik kesederhanaan itulah tersimpan sebuah cara pandang yang menarik untuk direnungkan.

    Sunil R. Tolani, yang juga dikenal dengan nama Neal Tolani adalah seorang entrepreneur, business coach, praktisi teknologi, konsultan bisnis, penulis, serta pendiri berbagai inisiatif yang bergerak di bidang pengembangan pola pikir, bisnis, dan kepemimpinan. Ia memiliki pengalaman panjang di bidang leadership, business development, marketing, teknologi, dan pengembangan organisasi.

    Selain dikenal sebagai penulis, ia juga aktif membangun berbagai komunitas pembelajaran dan pengembangan diri. Pengalaman hidupnya tidak selalu berjalan mulus. Dalam berbagai kesempatan, Sunil menceritakan perjalanan jatuh bangun yang pernah dialaminya, termasuk kegagalan bisnis, tekanan ekonomi, dan proses membangun kembali kehidupannya dari berbagai titik terendah. Pengalaman-pengalaman tersebut tampaknya banyak memengaruhi cara berpikir dan cara menulisnya.

    Ketika saya membaca buku "Udah, Gini Aja!", saya menangkap bahwa buku ini tidak sedang berusaha menjadi karya akademik yang penuh teori. Buku ini juga tidak berusaha menjadi buku filsafat yang dipenuhi konsep-konsep abstrak. Sunil memilih jalan yang berbeda. Ia berbicara kepada pembacanya dengan bahasa yang akrab, sederhana, dan langsung menyentuh persoalan yang sering dihadapi banyak orang dalam kehidupan sehari-hari.

    Gagasan utama buku ini sebenarnya cukup sederhana. Banyak orang tidak kekurangan kemampuan, tidak kekurangan pengetahuan, dan tidak kekurangan peluang. Banyak orang justru terhambat karena terlalu banyak berpikir, terlalu banyak khawatir, terlalu banyak menimbang kemungkinan buruk, dan terlalu banyak menunggu keadaan yang sempurna.

    Akibatnya mereka berhenti bergerak. Mereka menghabiskan energi untuk menganalisis, tetapi tidak memiliki cukup keberanian untuk melangkah. Buku ini mengajak pembaca untuk keluar dari jebakan tersebut. Sunil menawarkan berbagai cara pandang yang bertujuan membantu pembaca menghentikan kebiasaan overthinking, mengatasi mental block, meningkatkan fokus, dan mulai bertindak secara nyata.

    Pesan yang disampaikan Sunil memiliki relevansi yang luas. Dalam dunia bisnis banyak perusahaan gagal bukan karena kekurangan strategi, melainkan karena terlalu lama berdiskusi tanpa mengambil keputusan. Dalam dunia akademik, banyak penelitian tidak pernah selesai karena penelitinya terus mengejar kesempurnaan. Dalam kehidupan pribadi, banyak impian tidak pernah terwujud karena pemiliknya terlalu sibuk memikirkan risiko daripada kemungkinan.

    Buku ini mengingatkan saya pada sebuah kenyataan yang sering terlupakan. Hidup memang kompleks, tetapi tidak semua persoalan harus diperlakukan secara rumit. Ada saat ketika kita perlu melakukan analisis yang mendalam, tetapi ada juga saat ketika kita harus berhenti menganalisis dan mulai bertindak. Banyak keputusan dalam hidup tidak pernah datang bersama kepastian yang lengkap. Kita sering kali harus melangkah terlebih dahulu sebelum jalan itu menjadi jelas.

    Di sinilah saya melihat kekuatan buku ini. Sunil tidak menawarkan kesempurnaan. Ia tidak menjanjikan kesuksesan instan. Ia hanya mengajak pembaca untuk menyederhanakan cara berpikir terhadap berbagai persoalan yang sering kali dibebani oleh ketakutan dan asumsi yang berlebihan. Pesan tersebut mungkin terdengar sederhana, tetapi justru karena kesederhanaannya itulah ia mudah dipahami dan mudah dipraktikkan.

    Pada akhirnya, saya melihat "Udah, Gini Aja!" bukan sekadar sebuah buku pengembangan diri. Buku ini merupakan ajakan untuk berdamai dengan ketidaksempurnaan, menerima kenyataan bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana, dan tetap melangkah meskipun tidak semua jawaban sudah tersedia.

    Dalam dunia yang semakin bising oleh informasi, opini, dan tuntutan untuk selalu tampil sempurna, pesan sederhana yang dibawa Sunil terasa relevan. Jangan sampai kita terlalu sibuk memikirkan hidup hingga lupa menjalaninya. Kadang-kadang, setelah semua analisis selesai dilakukan dan setelah semua pertimbangan dipikirkan dengan matang, memang tiba saatnya kita berkata kepada diri sendiri, udah, gini aja, lalu melangkahlah 👍🥰😎⭐️🌷🇮🇩

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    SEMINAR NASIONAL 2026 – ILCS Pelindo Solusi Digital dan STIAMI

    play-sharp-fill

    NEXT: 29 – 30 JUNI 2026

    MY QUOTE


    F R I E N D S


    Hide picture