Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • CATATAN LINTAS KOMUNITAS 2026: RELASI MENJADI MODAL EKONOMI

    19 Jun 2026 | Dilihat: 8 kali

    oleh: Riri Satria

    Malam itu saya menghadiri sebuah acara yang menurut saya menarik untuk dicermati, bukan hanya dari sudut pandang bisnis, tetapi juga dari perspektif sosial dan ekonomi. Acara tersebut bertajuk Lintas Komunitas 2026: Satu Ruang. Semangat yang dousing adalah Banyak Peluang, Tak Terbatas Kolaborasinya, dengan tema Connect, Collaborate, Grow Together.

    Kegiatan tersebut berlangsung di Nine Space, lantai 28 Autograph Tower, Jakarta Pusat, dan mempertemukan berbagai komunitas yang bergerak di bidang bisnis, kewirausahaan, pengembangan profesional, konsultasi, dan pengembangan jejaring.

    Sekitar seratus peserta hadir dalam acara tersebut. Mereka datang dari berbagai latar belakang profesi dan pengalaman. Sebagian merupakan pengusaha yang telah lama berkecimpung dalam dunia usaha. Sebagian lainnya merupakan konsultan, pembicara profesional, mentor, pendidik, penggerak komunitas, dan para profesional yang selama ini aktif membangun ekosistem bisnis di Indonesia.

    Acara tersebut mempertemukan sepuluh komunitas yang selama ini memiliki perhatian dan aktivitas yang beririsan dengan dunia bisnis dan pengembangan sumber daya manusia. Komunitas-komunitas tersebut adalah The Entrepreneurs Society, PTBF, Asosiasi Penulis dan Inspirator Seluruh Indonesia (ASPIRASI), D'Consulting, Startup Huddle Jakarta, TK NOBISS, Entrepreneur Club Indonesia (ECI), iCommunity, Indonesian Professional Speakers Association (IPSA), dan Billionaire Mindset ID.

    Komunitas-komunitas tersebut diwakili oleh para pemimpinnya masing-masing. Mereka adalah Klemens Rahardja, Kirdi Putra, William Wiguna, Dedy Sidarta, Edy Wihardja, Thomas Sugiarto, Pinpin Bhaktiar, Juanda Rovelim, Donny de Keizer, dan Yossa Setiadi. Masing-masing hadir dengan pengalaman, jejaring, dan kontribusi yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun dalam bidangnya masing-masing.

    Saya menghadiri acara tersebut atas undangan Mas Bro Pinpin Bhaktiar, pendiri Entrepreneur Club Indonesia (ECI). Saya menyaksikan secara langsung bagaimana orang-orang yang sebelumnya berasal dari komunitas yang berbeda dapat bertemu, berdiskusi, bertukar gagasan, dan menjajaki berbagai kemungkinan kerja sama dalam satu ruang yang sama.

    Bapak Thomas Sugiarto menjadi tuan rumah sekaligus salah satu fasilitator utama dalam pertemuan tersebut. Beliau seorang pengusaha senior yang dikenal luas karena kerendahan hatinya. Saya sendiri pernah berbincang santai dan menikmati secangkir kopi bersama beliau. Dalam pertemuan-pertemuan yang sederhana itu, saya justru memperoleh banyak wawasan yang berharga mengenai dunia bisnis, kepemimpinan, jejaring, dan cara membaca peluang.

    Beliau tidak hanya berbicara mengenai keuntungan dan pertumbuhan usaha, tetapi juga mengenai pentingnya membangun hubungan yang baik dengan sesama. Pengalaman tersebut membuat saya tidak terkejut ketika melihat semangat kolaborasi yang begitu kuat dalam acara yang beliau fasilitasi.

    Sepanjang acara berlangsung, saya melihat banyak percakapan yang terjadi di berbagai sudut ruangan. Para peserta saling memperkenalkan diri, bertukar kartu nama, berbagi pengalaman, dan mendiskusikan berbagai peluang yang mungkin dapat mereka kerjakan bersama.

    Sebagian percakapan berlangsung secara formal, tetapi sebagian lainnya berlangsung secara santai sambil menikmati makanan dan minuman yang tersedia.

    Be berapa peserta ternyata berhasil mencapai kesepakatan bisnis pada malam itu juga. Ada yang menemukan calon mitra usaha. Ada yang membicarakan peluang kerja sama pemasaran. Ada yang menjajaki kolaborasi program pelatihan. Ada pula yang mulai mendiskusikan proyek-proyek yang dapat dikerjakan bersama. Sebagian dari mereka bahkan baru saling mengenal pada malam yang sama.

    Peristiwa tersebut mengingatkan saya pada konsep yang dalam ilmu ekonomi modern dikenal sebagai relationship economy atau ekonomi relasional. Konsep ini menjelaskan bahwa hubungan antarmanusia dapat menjadi sumber nilai ekonomi yang sangat penting.

    Dalam paradigma ekonomi tradisional, orang sering memandang transaksi sebagai inti dari kegiatan ekonomi. Namun dalam paradigma ekonomi relasional, hubungan justru menjadi fondasi yang memungkinkan transaksi terjadi.

    Kepercayaan melahirkan komunikasi. Komunikasi membuka peluang. Peluang menciptakan kolaborasi. Kolaborasi menghasilkan nilai ekonomi. Rangkaian proses tersebut tampak berlangsung secara alami pada malam itu. Saya melihat bahwa orang-orang tidak datang hanya untuk menjual sesuatu atau membeli sesuatu.

    Mereka datang untuk membangun hubungan. Mereka datang untuk memperluas jaringan. Mereka datang untuk saling mengenal. Namun justru dari proses itulah peluang-peluang ekonomi mulai bermunculan.

    Pengalaman tersebut juga mengingatkan saya pada sebuah ungkapan yang sudah lama hidup dalam masyarakat Indonesia, yaitu bahwa silaturahmi dapat memperbanyak dan memperpanjang rezeki. Selama ini banyak orang memandang ungkapan tersebut sebagai nasihat moral atau ajaran budaya semata. Namun jika dicermati lebih dalam, ungkapan tersebut ternyata memiliki dasar sosial dan ekonomi yang kuat.

    Ketika seseorang memperluas silaturahmi, ia memperluas jaringan kepercayaan. Ketika jaringan kepercayaan bertambah, akses terhadap informasi, peluang, pelanggan, mitra, dan kolaborator juga bertambah.

    Dari sanalah berbagai bentuk rezeki dapat muncul. Rezeki tidak selalu berbentuk uang. Rezeki dapat berupa pengetahuan baru, sahabat baru, kesempatan baru, pengalaman baru, maupun akses kepada lingkungan yang sebelumnya tidak terjangkau.

    Malam itu saya menyaksikan secara langsung bagaimana konsep relationship economy bertemu dengan nilai silaturahmi yang telah lama dikenal dalam budaya kita.

    Saya menyaksikan bagaimana orang-orang yang sebelumnya tidak saling mengenal mulai membangun hubungan. Saya menyaksikan bagaimana hubungan tersebut melahirkan kepercayaan. Saya menyaksikan bagaimana kepercayaan membuka peluang.

    Saya juga menyaksikan bagaimana peluang tersebut mulai berubah menjadi kolaborasi dan bahkan kesepakatan bisnis.

    Di tengah perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan, dan berbagai perubahan yang berlangsung sangat cepat, pengalaman tersebut mengingatkan saya bahwa hubungan antarmanusia tetap memiliki nilai yang tidak tergantikan.

    Teknologi dapat mempercepat komunikasi, tetapi teknologi tidak dapat menggantikan kepercayaan. Media sosial dapat memperluas jangkauan, tetapi media sosial tidak dapat sepenuhnya menggantikan kualitas perjumpaan langsung. Aplikasi dapat menghubungkan orang, tetapi hubungan yang bermakna tetap dibangun melalui interaksi yang tulus dan saling menghargai.

    Karena itu, saya melihat Lintas Komunitas 2026 bukan sekadar sebuah acara networking. Saya melihatnya sebagai sebuah ruang perjumpaan yang mempertemukan berbagai modal sosial, modal intelektual, dan modal pengalaman dalam satu ekosistem yang sama.

    Saya melihatnya sebagai ruang yang memungkinkan lahirnya gagasan baru, kolaborasi baru, dan peluang baru.

    Malam itu saya pulang dengan satu kesan yang kuat. Dalam dunia yang semakin kompleks dan semakin terhubung, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh apa yang kita miliki dan apa yang kita ketahui.

    Keberhasilan juga ditentukan oleh kemampuan kita membangun hubungan yang baik dengan sesama. Hubungan yang dibangun dengan kepercayaan, ketulusan, dan semangat untuk saling memberi manfaat akan selalu memiliki nilai yang besar, baik secara sosial maupun secara ekonomi.

    Mungkin inilah makna yang paling penting dari pertemuan tersebut. Relasi bukan sekadar pelengkap kegiatan ekonomi. Relasi adalah modal ekonomi itu sendiri.

    Dalam bahasa yang lebih sederhana, barangkali inilah yang sejak lama diajarkan oleh para orang tua kita: silaturahmi yang baik tidak hanya memperluas pergaulan, tetapi juga membuka jalan bagi datangnya berbagai bentuk rezeki.

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    SEMINAR NASIONAL 2026 – ILCS Pelindo Solusi Digital dan STIAMI

    play-sharp-fill

    NEXT: 29 – 30 JUNI 2026

    MY QUOTE


    F R I E N D S


    Hide picture