Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • Teknologi Bukan Musuh: Membaca Masa Depan dengan Tetap Menjadi Manusia

    19 Jun 2026 | Dilihat: 9 kali

    Perkembangan teknologi sering kali melahirkan dua sikap yang bertolak belakang. Sebagian orang menyambutnya dengan antusias, meyakini bahwa teknologi akan menyelesaikan hampir seluruh persoalan manusia. Sebagian lain justru memandangnya sebagai ancaman yang perlahan menggerus pekerjaan, budaya, bahkan kemanusiaan itu sendiri. Di tengah tarik-menarik antara optimisme dan pesimisme tersebut, buku Teknologi Bukan Musuh: Kumpulan Esai tentang Transformasi Digital, Kecerdasan Buatan, dan Sosial Ekonomi karya Riri Satria hadir menawarkan jalan tengah yang lebih bijaksana.

    Judul buku ini sekaligus menjadi tesis utama yang diperjuangkan penulis. Teknologi bukanlah musuh. Yang patut diwaspadai bukanlah mesin, algoritma, atau kecerdasan buatan, melainkan ketidaksiapan manusia dalam memahami, mengendalikan, dan memanfaatkan perkembangan teknologi secara bertanggung jawab. Melalui puluhan esai yang tersebar dalam empat bagian besar, Riri Satria berusaha menjelaskan bahwa masa depan tidak ditentukan oleh kecanggihan teknologi semata, tetapi oleh kualitas manusia yang menggunakannya.

    Buku ini menarik karena tidak terjebak menjadi buku teknologi yang hanya membahas perangkat, aplikasi, atau perkembangan teknis kecerdasan buatan. Sebaliknya, penulis menghubungkan teknologi dengan berbagai dimensi kehidupan manusia: ekonomi, psikologi, budaya, filsafat, pendidikan, bahkan persoalan moral yang semakin kompleks di era digital. Dari daftar isi saja terlihat bahwa penulis memiliki perhatian yang luas terhadap berbagai isu kontemporer, mulai dari literasi digital, deepfake, keamanan siber, ekonomi perhatian (attention economy), hingga refleksi terhadap pemikiran para tokoh besar dunia.

    Pada bagian pertama yang bertajuk Teknologi Digital dan Kecerdasan Buatan, pembaca diajak memahami perubahan besar yang sedang berlangsung di hadapan mata kita. Penulis memulai dengan persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, yakni mengapa manusia begitu mudah tertipu di internet. Fenomena hoaks, penipuan daring, manipulasi informasi, hingga propaganda digital dipandang bukan sekadar persoalan teknologi, melainkan persoalan literasi. Di sini tampak keyakinan penulis bahwa kecanggihan teknologi tidak otomatis membuat manusia menjadi lebih cerdas. Justru sebaliknya, tanpa kemampuan berpikir kritis, teknologi dapat memperbesar dampak kebodohan dan manipulasi.

    Tema kecerdasan buatan menjadi salah satu poros utama buku ini. Melalui berbagai esai seperti Generasi Baru: AI Natives, Gen AI, GAN, LLM, DM, VAE dan Deepfake, serta Menguji Kecerdasan Buatan, penulis memperkenalkan pembaca pada lanskap teknologi mutakhir yang saat ini sedang mengubah dunia. Menariknya, Riri Satria tidak berhenti pada penjelasan teknis. Ia membawa pembaca memasuki pertanyaan yang lebih filosofis: apakah mesin dapat berpikir seperti manusia? Apakah kreativitas manusia masih memiliki tempat ketika AI mampu menulis puisi, melukis gambar, bahkan menghasilkan karya musik? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan ketika kecerdasan buatan mulai merambah hampir seluruh sektor kehidupan.

    Salah satu isu yang mendapatkan perhatian besar dalam buku ini adalah deepfake. Beberapa esai secara khusus membahas fenomena tersebut dari berbagai sudut pandang. Deepfake tidak hanya dipahami sebagai teknologi manipulasi gambar dan video, tetapi juga sebagai simbol lahirnya krisis kebenaran di era digital. Jika dahulu masyarakat mempercayai foto dan video sebagai bukti, maka kini bukti visual itu sendiri dapat direkayasa dengan sangat meyakinkan. Dalam konteks ini, penulis mengingatkan bahwa tantangan terbesar manusia abad ke-21 bukan lagi memperoleh informasi, melainkan membedakan antara fakta dan ilusi.

    Pandangan tersebut mengingatkan pembaca pada teori Jean Baudrillard mengenai simulasi dan hiperrealitas, yakni keadaan ketika representasi menjadi lebih dominan daripada kenyataan. Dunia digital menciptakan ruang baru tempat manusia berhadapan dengan realitas yang terus-menerus diproduksi, dimodifikasi, dan dipertontonkan. Oleh karena itu, literasi digital menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditawar lagi.

    Buku ini secara konsisten menekankan pentingnya literasi digital sebagai fondasi masyarakat modern. Dalam esai Digital Literacy Is A Must, penulis menjelaskan bahwa kemampuan membaca dan menulis saja tidak lagi cukup. Manusia abad digital harus mampu memverifikasi informasi, memahami cara kerja algoritma, melindungi data pribadi, serta menyadari berbagai bentuk manipulasi yang beroperasi di ruang siber. Literasi digital bukan sekadar keterampilan teknis, melainkan bagian dari kecakapan hidup yang menentukan kualitas demokrasi, pendidikan, dan kehidupan sosial masyarakat.

    Bagian kedua buku ini beralih pada pembahasan ekonomi dan manajemen bisnis. Di sini terlihat latar belakang dan ketertarikan penulis terhadap dinamika ekonomi digital yang sedang berkembang pesat. Penulis menjelaskan bagaimana peradaban ekonomi bergerak dari ekonomi agraris menuju ekonomi industri, kemudian berkembang menjadi ekonomi berbasis pengetahuan, ekonomi digital, hingga ekonomi cerdas yang ditopang oleh data dan kecerdasan buatan.

    Salah satu gagasan yang menarik adalah pembahasan mengenai attention economy. Dalam era digital, perhatian manusia telah berubah menjadi komoditas yang sangat berharga. Platform media sosial, mesin pencari, aplikasi digital, hingga industri hiburan berlomba-lomba merebut perhatian pengguna. Apa yang sebelumnya dianggap sebagai aktivitas biasa ternyata telah menjadi sumber keuntungan ekonomi yang luar biasa besar. Dalam konteks ini, manusia tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga menjadi produk yang diperjualbelikan melalui data, preferensi, dan perilaku digital mereka.

    Melalui berbagai esai ekonomi, Riri Satria memperlihatkan bahwa teknologi bukan sekadar persoalan perangkat lunak dan perangkat keras. Teknologi adalah kekuatan yang membentuk cara manusia bekerja, berbisnis, berinteraksi, bahkan menentukan arah pembangunan suatu bangsa. Oleh sebab itu, pemahaman mengenai transformasi digital menjadi penting bukan hanya bagi pelaku teknologi, tetapi juga bagi pengambil kebijakan, akademisi, dan masyarakat umum.

    Bagian ketiga buku ini dapat dianggap sebagai jantung reflektif dari keseluruhan karya. Jika bagian sebelumnya berbicara tentang teknologi dan ekonomi, maka bagian ini berbicara tentang manusia. Berbagai esai seperti Algoritma dan Psikologi Digital, Digital Human, Ketika Ujaran Kebencian Menjadi Bising, serta Efek Dunning-Kruger kepada Manusia menunjukkan kegelisahan penulis terhadap kondisi manusia modern yang semakin terhubung namun belum tentu semakin bijaksana.

    Penulis menunjukkan bahwa teknologi tidak hanya mengubah cara manusia berkomunikasi, tetapi juga mengubah cara manusia memahami dirinya sendiri. Identitas virtual perlahan menjadi bagian dari identitas sosial. Jumlah pengikut, tanda suka, dan komentar sering kali memengaruhi rasa percaya diri seseorang. Di sisi lain, algoritma media sosial menciptakan ruang gema (echo chamber) yang memperkuat prasangka dan mempersempit dialog. Dalam situasi seperti ini, manusia berisiko kehilangan kemampuan mendengar, memahami, dan menghargai perbedaan.

    Esai mengenai Efek Dunning-Kruger menjadi sangat relevan dalam konteks tersebut. Penulis mengingatkan bahwa banjir informasi tidak selalu menghasilkan masyarakat yang lebih berpengetahuan. Sebaliknya, kemudahan akses informasi terkadang membuat seseorang merasa mengetahui banyak hal padahal pemahamannya masih dangkal. Kritik ini terasa tajam sekaligus aktual di tengah maraknya fenomena komentar instan dan opini yang lebih cepat berkembang dibandingkan proses berpikir yang matang.

    Pada bagian terakhir, buku ini bergerak ke wilayah yang lebih filosofis dan reflektif. Penulis berdialog dengan berbagai pemikir dunia seperti Albert Einstein, Jürgen Habermas, Yuval Noah Harari, Michael Porter, Max Tegmark, hingga Bill Gates. Melalui pembacaan terhadap buku, gagasan, dan fenomena budaya, Riri Satria mencoba memahami arah perkembangan peradaban manusia dalam menghadapi revolusi teknologi.

    Bagian ini menunjukkan bahwa teknologi pada akhirnya bukanlah persoalan mesin, melainkan persoalan manusia dan masa depannya. Pertanyaan yang diajukan bukan lagi “seberapa canggih teknologi yang akan kita miliki?”, melainkan “manusia seperti apa yang akan kita menjadi?”. Di sinilah letak kekuatan utama buku ini. Ia tidak hanya mengajak pembaca memahami perubahan zaman, tetapi juga mengajak mereka merenungkan posisi manusia di tengah perubahan tersebut.

    Sebagai sebuah kumpulan esai, buku ini memiliki kelebihan berupa keluasan tema dan keberagaman perspektif. Pembaca dapat menemukan pembahasan mengenai kecerdasan buatan, ekonomi digital, keamanan siber, psikologi, filsafat, hingga refleksi budaya dalam satu buku yang sama. Namun, keluasan tersebut sekaligus menjadi tantangan karena beberapa esai terasa berdiri sendiri dan tidak selalu terhubung secara argumentatif seperti sebuah buku akademik yang disusun berdasarkan satu kerangka teori tertentu. Meski demikian, justru karakter inilah yang membuat buku ini mudah dinikmati oleh berbagai kalangan pembaca.

    Pada akhirnya, Teknologi Bukan Musuh bukan hanya sebuah buku tentang teknologi. Ia adalah catatan intelektual tentang perubahan zaman. Riri Satria mengingatkan bahwa masa depan tidak semata-mata ditentukan oleh kecanggihan algoritma atau kecerdasan buatan, tetapi oleh kemampuan manusia mempertahankan akal sehat, etika, empati, dan kebijaksanaan di tengah arus perubahan yang semakin cepat. Buku ini layak dibaca oleh siapa saja yang ingin memahami dunia digital tanpa kehilangan pijakan kemanusiaannya, sebab sebagaimana ditegaskan penulis melalui judul bukunya, teknologi memang bukan musuh. Yang menentukan arah peradaban tetaplah manusia. (**)


    Rissa Churria adalah pendidik, penyair, prosais, esais, dan pelukis. Telah menerbitkan 15 buku tunggal diantaranya antologi puisi, cerita anak, esai, dan buku pedoman untuk mahasiswa, dan lebih dari 100 antologi bersama dengan penulis lainnya, baik dalam dan luar negara.

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    SEMINAR NASIONAL 2026 – ILCS Pelindo Solusi Digital dan STIAMI

    play-sharp-fill

    NEXT: 29 – 30 JUNI 2026

    MY QUOTE


    F R I E N D S


    Hide picture