Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • FENOMENA DISCOURAGE WORKERS ATAU KEPUTUSASAAN PADA ANGKATAN KERJA

    12 Dec 2025 | Dilihat: 203 kali

    Beberapa waktu terakhir, saya membaca sebuah laporan yang membuat dada terasa berat. Ada ribuan lulusan perguruan tinggi—bahkan hingga puluhan ribu—yang kini masuk kategori discouraged workers: mereka yang berhenti mencari pekerjaan bukan karena malas, melainkan karena merasa peluangnya terlalu tipis. Mereka sudah mencoba, sudah mengetuk pintu ke sana kemari, sudah memperbarui CV berkali-kali, bahkan mengikuti pelatihan daring yang tak terhitung jumlahnya—namun tetap tidak menemukan ruang untuk masuk ke pasar kerja yang mereka impikan.

    Dalam Labor Market Brief terbaru (Volume 6, Nomor 11, November 2025), LPEM FEB UI mencatat angka yang cukup menyentak: sekitar 45 ribu lulusan S1 dan lebih dari 6 ribu lulusan S2–S3 kini berada dalam kategori itu—mereka menyerah karena merasa tidak ada lagi celah untuk masuk ke dunia kerja.

    Angka ini mengusik nalar sekaligus perasaan. Banyak dari kita selama ini berasumsi bahwa keputusasaan dalam mencari kerja hanya dialami mereka yang pendidikannya rendah. Tetapi data ini membalikkan anggapan tersebut. Ternyata, gelar tinggi tidak selalu membawa ruang aman di dunia kerja; bahkan mereka yang sudah berjuang sampai S2 atau S3 pun bisa tersesat di lorong panjang pasar tenaga kerja.

    Secara internasional, lembaga seperti ILO dan Bank Dunia sering menyebut discouraged workers sebagai indikator dini kerentanan pasar tenaga kerja. Meskipun jumlahnya terlihat kecil, pola kemunculannya kerap menjadi sinyal bahwa ada yang rapuh dalam dinamika permintaan dan penawaran tenaga kerja.

    Kelompok ini meningkat ketika akses terhadap pekerjaan yang layak semakin terbatas, ketika mobilitas sosial menurun, ketika layanan penempatan kerja stagnan, atau ketika kesenjangan keterampilan (skills mismatch) berkembang lebih cepat daripada respons kebijakan. Dengan kata lain, angka yang kecil bukan berarti persoalannya kecil. Ia lebih mirip retakan halus di dinding rumah—nyaris tak terlihat, tapi menandai kerusakan struktur yang lebih besar.

    Yang lebih mengkhawatirkan: naiknya kelompok discouraged workers kerap muncul sebelum stagnasi partisipasi angkatan kerja atau meningkatnya informalitas. Ini bukan sekadar statistik. Ini alarm.

    Lalu, pertanyaan yang muncul adalah: di mana letak persoalannya? Apakah lapangan kerjanya tidak ada? Apakah pertumbuhan ekonomi yang lambat membuat kesempatan kerja mandek? Apakah kompetensi lulusan kita merosot? Apakah kampus kini terlalu mudah memberi gelar? Atau… apakah AI benar-benar mulai mengambil alih pekerjaan manusia?

    Jawabannya tidak sesederhana menunjuk satu pihak. Persoalannya lebih mirip jaring kusut—banyak simpul yang saling menarik.

    Di sinilah insight ekonomi membantu kita melihat gambaran besarnya.

    1. Pertumbuhan produktivitas tidak sejalan dengan pertumbuhan pekerjaan

    Ekonomi kita mengalami digitalisasi dan otomatisasi di banyak sektor. Produktivitas naik, tetapi tidak selalu menghasilkan pertumbuhan lapangan kerja. Bahkan, beberapa sektor justru bisa menghasilkan output yang lebih besar dengan jumlah tenaga kerja yang lebih sedikit—a phenomenon economists call jobless growth.

    1. Struktur industri kita belum ramah lulusan berpendidikan tinggi

    Sebagian besar pekerjaan di Indonesia masih berada di sektor perdagangan informal, manufaktur ringan, dan jasa sederhana. Sektor ini tidak banyak menyerap lulusan S1–S3 yang memiliki aspirasi kompetensi tinggi.

    Sementara itu, sektor padat keterampilan—teknologi, riset, kesehatan modern, keuangan, data—memang tumbuh, namun kecepatannya kalah jauh dibanding jumlah lulusan baru setiap tahun. Hasilnya: antrian panjang yang bergerak sangat pelan.

    1. Fenomena overeducation yang semakin melebar

    Kini bukan hanya lulusan S1 yang merasa pekerjaannya tidak sesuai tingkat pendidikan—lulusan S2 dan S3 pun mulai menumpuk dalam kategori yang sama. Banyak dari mereka memilih berhenti mencari kerja daripada menerima pekerjaan yang dianggap “tidak layak” bagi tingkat pendidikan dan pengorbanan finansial yang sudah mereka keluarkan. Secara ekonomi, pilihan ini sering dianggap irasional—tetapi secara manusiawi, sangat mudah dipahami.

    1. Kegagalan informasi pasar tenaga kerja (market information failure)

    Birokrasi pasar tenaga kerja kita masih tertutup. Perusahaan tidak transparan tentang kebutuhan keterampilan dan jalur karier; pencari kerja tidak punya akses informasi yang lengkap untuk memahami arah pertumbuhan industri. Akibatnya, ada ribuan lowongan yang tidak terisi, tetapi juga ribuan lulusan yang merasa tidak ada pekerjaan untuk mereka. Ini bukan sekadar mismatch keterampilan—ini mismatch informasi.

    1. Pergeseran dunia kerja yang lebih cepat daripada respons kebijakan

    Dunia kerja global sedang memasuki era kerja fleksibel, hibrida, gig economy, dan pekerjaan berbasis proyek. Namun kurikulum kampus, lembaga pelatihan, dan kebijakan ketenagakerjaan masih bertumpu pada paradigma lama: kerja tetap, jam tetap, kantor fisik. Transisinya tidak seimbang. Lalu siapa yang tertinggal? Lulusan baru!

    1. Biaya pencarian kerja yang semakin tinggi

    Dalam ekonomi tenaga kerja, ada istilah job search cost—biaya waktu, tenaga, uang, transportasi, sertifikasi, bahkan kesehatan mental. Ketika peluang kecil sementara biaya pencarian tinggi, keputusan berhenti mencari pekerjaan sering kali justru rasional secara ekonomi, namun  tetap menyakitkan secara personal.

    1. AI bukan hanya menggantikan pekerjaan, hanya menggantikan tugas dalam pekerjaan

    AI tidak menghapus profesi seluruhnya, tetapi ia menghapus atau mengubah tugas-tugas tertentu. Akibatnya, pekerjaan yang dulu bisa dilakukan lulusan umum kini menuntut kemampuan analitik, digital, dan koordinasi dengan sistem cerdas. Ketika tuntutan berubah tetapi keterampilan tidak ikut berubah, yang muncul adalah jurang ketidakmampuan yang membuat banyak lulusan goyah kepercayaan dirinya.

    Namun di luar semua analisis ekonomi itu, ada dimensi emosional yang sering kita abaikan: kekecewaan, rasa gagal, dan kehilangan percaya diri. Tidak ada yang benar-benar siap menghadapi kenyataan bahwa setelah berkorban biaya, waktu, tenaga, dan harapan untuk pendidikan tinggi, peluang yang tersedia justru terasa semakin kecil.

    Kelompok discouraged workers mungkin tak terlihat di angka pengangguran resmi. Tetapi mereka hadir dalam bentuk-bentuk senyap: kamar kos yang semakin sunyi, CV yang tak lagi dibuka, akun LinkedIn yang berhenti diperbarui, dan percakapan pendek di meja makan ketika orang tua bertanya, “Sudah ada panggilan kerja belum?”

    Fenomena ini bukan sekadar statistik. Ini cerita manusia. Oleh karena itu, kebijakan ketenagakerjaan perlu membaca sinyal ini dengan lebih saksama. Pemerintah harus memperbaiki layanan informasi pasar kerja, memperkuat relevansi pelatihan, mempercepat transformasi industri, memperkuat sektor padat keterampilan, dan memastikan kampus tidak hanya mencetak gelar, tetapi juga mencetak kompetensi.

    Sebab ketika puluhan ribu lulusan akhirnya menyerah sebelum mereka sempat berkontribusi, berarti ada sesuatu yang tidak sedang bekerja sebagaimana mestinya. Dan ketika harapan anak muda mulai padam, itu bukan hanya masalah ekonomi—itu masalah masa depan.

    Bagaimana kabarnya dengan janji kampanye pemerintahan sekarang saat pemilihan Presiden setahun yang lalu?

    Salam

    (Riri Satria)

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    F R I E N D S


    RECENT EVENT

    Riri Satria tentang Bencana Alam Sumatera

    play-sharp-fill

    RECENT EVENT

    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture